|
Liputan Media [Jawa Pos, Jum'at, 11 September 2009 ] Ummi Hanif; Tak Puas Jadi Pekerja, Rintis Bisnis Bordir Mukena
SITI AISYAH --- Rentetan promosi barang dagangan keluar dari mulut Ummi Hanif. Wanita yang tinggal di Vila Jasmine 2 Blok H 12 itu menjelaskan macam-macam mukena dan baju koko andalannya kepada seorang pembeli. Deretan mukena yang dipajang di tokonya memang menarik pembeli. Motifnya berbeda dari mukena di pasaran.
Apalagi, dia memajang tulisan besar: Diskon 20 Persen. "Mukena kami diskon 20 persen. Baju koko beli dua gratis satu," ujarnya berpromosi kepada seorang pengunjung di stannya di lapangan GOR Sidoarjo Festival. Ummi tergolong gesit dalam melayani pengunjung yang bergantian datang ke lokasi pameran. Ummi mengatakan berani memberikan diskon untuk produknya karena dirinya membuatnya sendiri, bukan mengambil dari orang lain. Menjelang Ramadan hingga Lebaran nanti, produk mukena dan baju koko memang menjadi item yang paling dicari. Tak mengherankan, pada saat-saat seperti ini permintaan pasar akan produknya cukup tinggi. "Dua bulan sebelum Ramadan hingga Lebaran saya bisa memasarkan seribu mukena per bulan," terang ibu dua anak tersebut. Istri Udik Harianto itu menambahkan, sebelumnya tidak terpikir keinginan untuk punya usaha sendiri. Dulu dia tinggal dan bekerja di Batam bersama suaminya. Namun, hanya menjadi pekerja terasa kurang bebas. Apalagi, jika ada acara, dia sulit mendapatkan izin dan menemani suaminya. "Pada suatu hari kami ikut seminar kewirausahaan. Dari situlah kami akhirnya memutuskan untuk buka usaha sendiri," jelas wanita kelahiran 9 Juli 1980 itu. Bersama suaminya dia pulang ke Jawa dan merintis usaha sekitar 2007. Di Sidoarjo-lah dia merintis karir sebagai pedagang. Awalnya, Ummi mengambil barang dari orang lain, menjahit, lalu menjualnya. Dia membeli tiga mesin jahit dan menggaji pekerja. Namun, ternyata untungnya tidak banyak. Merintis usaha memang bukan hal mudah. Dia sudah jatuh bangun. Bahkan, untuk modal awal, Ummi sampai menjual rumah. Setelah usahanya tidak maju-maju karena mengambil barang dari orang lain, Ummi akhirnya memutuskan untuk membuat sendiri barang dagangannya. Dia lebih fokus pada pembuatan mukena dengan motif bordir. Namun, jangan salah. Motif-motif mukena yang dia jual berbeda dari yang banyak dijual di pasaran. "Saya mendesain sendiri mukena-mukena itu. Kadang juga bekerja sama dengan teman saya untuk desainnya," papar Ummi. Dia lebih memilih bordir mukena karena masih jarang di Sidoarjo. Yang banyak di pasaran adalah motif bordir untuk baju. Untuk memasarkan produknya, Ummi memilih cara modern. Yaitu, berpromosi di internet. Dia punya web sendiri. Namanya www.mukenaku.com. Sang suami yang membuatkan web tersebut. Dari web itulah dia menjaring agen-agen. Mayoritas agen berasal dari luar Jawa. Mulai Balikpapan, Bali, Riau, Batam, Mamuju, Banda Aceh, hingga Timika. Ummi mengatakan sengaja membidik pasar luar Jawa karena di sana peluang lebih terbuka. Bordir masih jarang, tapi sangat disukai. Jika dulu Ummi harus terseok-seok meniti karir, sekarang usahanya terbilang cemerlang. Omzet industri rumahannya bisa mencapai Rp 60 juta per bulan. "Alhamdulillah, sekarang sudah stabil," tuturnya. (roz)
Silakhan cek di http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=89860
|