http://www.mukenaku.com

Jadi, Begini Cara Memulainya… PDF Print E-mail
Written by admin   

By Lyra Puspa                                           Kumpulan Artikel Motivasi

 “Ummi, mas Aif jualan bihun sama tmn2 (atira,naura,asa,nisa) meskipun hjn tetap smngat n ceria. Alhamdulillah hbs bihunnya   :-) bsk jualan lg he..3x”

 Sebuah sms masuk pada hari itu. Dari Pak Nasrul, guru yang mengajar di TK B Sekolah Alam Indonesia, tempat anak tertua saya bermain sambil belajar. Guru yang di awal Aif masuk play group 2 tahun lalu selalu rajin mengejar-ngejar Aif yang berlarian ke berbagai tempat.  

2 Februari 2009. Pagi itu saya memang membawakan 15 bungkus kecil bihun goreng untuk Aif, anak sulung saya, agar dijual di sekolah. Alhamdulillah, ternyata langsung habis di menit-menit pertama. Lumayan, bisa menabung untuk membeli mainan

aif-jualan
Aif (kanan) siap berjualan puding mangga ditemani Ian (kiri) “partner bisnis”-nya

 

“Alhamdulillah, mas Aif jualannya hbs semua hy dlm b’berapa menit saja.”

 

Masuk sms kedua, kali ini dari Bu Ratu yang juga guru di TK B Sekolah Alam Indonesia. Subhanallah ! Betapa para guru di sekolah ini justru mendukung penuh jika para muridnya mengeksplorasi berbagai hal. Termasuk berdagang.

Sekolah Alam Indonesia memang memiliki jadual reguler Market Day, ketika anak-anak dari berbagai kelas membuka stand, dan menjual berbagai hasil karya mereka. Tapi pagi itu bukan waktunya Market Day. Aif berjualan bihun goreng pada hari sekolah biasa. Namun dukungan para guru… Luar biasa.

 

“Bu, dah dpt kbr dr pak Nasrul kan? … Jualan Aif dah habis. Dan lgsg punya 4 org krywan :D”

 

Wow, 4 karyawan ? Oh… tentu maksudnya 4 teman yang tadi disebut pak Nasrul. Good start. Even better. Baru mulai berdagang sudah punya reseller. Hahaha.

Sms yang terakhir ini dari Pak Edi, guru yang mengajar langsung Aif saat ini di kelas TK B Tulip. Guru yang, kelak, setiap hari selalu menagih, “Bu, besok Aif jualan lagi yaa…”

 

Mungkin bagi Anda hal ini terdengar biasa. Ah, hanya berjualan 15 bungkus bihun goreng saja. Namun bagi saya, ini suatu pengalaman berharga yang luar biasa. Karena, anak kami bukan anak biasa.

Ya. Aif dianugerahi Yang Maha Kuasa keterlambatan berbicara. Speech delay, istilah kerennya. Pun hingga saat ini, dia belum jelas berbicara seperti teman-temannya.

Tapi toh, dagangannya selalu habis. Tanpa sisa. Tanpa dia mencuri-curi untuk memakan sendiri barang dagangannya. Dan begitu pula pada penjualan-penjualan berikutnya. Entah bihun goreng, sandwich, atau bahkan nasi kuning. Selalu habis. Sold out.

Padahal dia belum lancar berbicara. Bahkan di usianya yang saat itu sudah 5 tahun. Padahal dia berjualan 2-3 kali setiap minggunya. Sampai sekarang. Namun, tidak pernah Aif pulang dengan membawa barang dagangan sisa. Selalu tandas. Entah bagaimana caranya.

 

Lalu saya membandingkan dengan diri saya sendiri. Betapa terlambatnya saya, dibandingkan dia, saat memulai berbisnis selepas menyelesaikan S-2. Padahal Aif di usianya yang ke-5, tanpa kemampuan normal berbicara, sudah belajar bagaimana melakukan transaksi, merayu calon konsumen, melihat titik-titik di mana ada peluang, dan mencapai tingkat konsistensi tinggi untuk selalu mencapai kondisi sold out.

Supir saya bercerita, Aif tidak mau pulang kalau dagangannya belum habis tuntas. Dia akan terus mencari konsumen yang mau membeli sisa barang dagangannya. Hmm… betapa konsisten dan persistennya.

 

Lalu saya membandingkan dengan banyak orang di sekitar kita. Yang berusia dewasa. Yang, katanya, ingin mulai berwirausaha. Yang merasa bingung harus berbisnis apa, padahal dikaruniai berbilang tahun pengalaman dan beragam talenta. Yang lebih bingung lagi ketika berpikir modal dari mana, padahal modal bisa dicari dengan banyak cara. Yang takut menghadapi bangkrut, padahal kejadiannya belum lagi tiba.

Lalu saya berpikir, betapa anak-anak kita begitu luar biasa. Tak pernah takut gagal untuk mencoba. Tak pernah merasa malu ketika mengalami kegagalan. Tak pernah berpikir terlalu njelimet untuk memulai segalanya. Yang penting mencoba. Apa saja.

Lalu, ketika seorang anak berusia 5 tahun sudah mampu membeli mainan dengan uangnya sendiri hanya dengan berjualan bihun goreng 10-15 bungkus setiap kali, masihkah perlu kita bertanya bagaimana memulai sebuah usaha ?

Bukankah peluang berserakan di mana-mana ?

Lalu, ketika seorang anak yang belum lancar bicara saja mampu mencari dan merayu konsumen hingga habis dagangannya, masihkah pantas kita berpikir ketersediaan modal adalah hambatan segalanya ?

Bukankah kita lebih lancar bicara, lebih dewasa, lebih punya banyak pengalaman, lebih luas wawasan, dan berbagai lebih-lebih lainnya ?

 

Setiap barang yang bisa kita beli, berarti bisa pula kita jual. Setiap keinginan yang tidak terpenuhi, bermakna munculnya sebuah peluang usaha. Setiap talenta yang mengalir dalam diri, adalah modal yang tidak ternilai harganya.

Lalu, masihkah kita bertanya bagaimana caranya memulai usaha ? Untuk mandiri, atau bahkan untuk menjadi kaya ?

 

Salam Kaya Dari Rumah.

 

Kategori Produk

Pengunjung Hari Ini

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini23
mod_vvisit_counterKemaren79
mod_vvisit_counterMinggu Ini102
mod_vvisit_counterBulan Ini527
mod_vvisit_counterTotal137946

Kartu Belanja

VirtueMart
Your Cart is currently empty.

Pencarian Produk?

Liputan Media

Liputan Media

Liputan Media
[Jawa Pos, Jum'at, 11 September 2009 ] Ummi Hanif; Tak Puas Jadi Pekerja, Rintis Bisnis Bordir Mukena


SITI AISYAH --- Rentetan promosi barang dagangan keluar dari mulut Ummi Hanif. Wanita yang tinggal di Vila Jasmine 2 Blok H 12 itu menjelaskan macam-macam mukena dan baju koko andalannya kepada seorang pembeli. Deretan mukena yang dipajang di tokonya memang menarik pembeli. Motifnya berbeda dari mukena di pasaran.

More...

Artikel Motivasi

Jadi, Begini Cara Memulainya…

By Lyra Puspa                                           Kumpulan Artikel Motivasi

 “Ummi, mas Aif jualan bihun sama tmn2 (atira,naura,asa,nisa) meskipun hjn tetap smngat n ceria. Alhamdulillah hbs bihunnya   :-) bsk jualan lg he..3x”

 Sebuah sms masuk pada hari itu. Dari Pak Nasrul, guru yang mengajar di TK B Sekolah Alam Indonesia, tempat anak tertua saya bermain sambil belajar. Guru yang di awal Aif masuk play group 2 tahun lalu selalu rajin mengejar-ngejar Aif yang berlarian ke berbagai tempat.  

More...